Kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kematian. Entah untung atau buntung, Tuhan mengembalikan ruhmu tak lama setelah mencabutnya paksa; seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa. Seminggu sebelum kejadian itu, kau tengah berladang di sawah ibumu yang cuma sepetak. Hujan deras membuatmu kuyup. Karena awalnya memang kau tak sehat betul, hawa dingin dengan cepat membuat badanmu membara setiba di rumah. Bergelung jarik, kau mengigau tak keruan. Segala obat kau telan, tetap sia-sia. Tepat di malam purnama, hari ketujuh demammu, tiba-tiba tanganmu terulur ke udara, seakan menahan sesuatu. Apakah malaikat datang merenggut paksa jiwamu, tapi kau teguh memperjuangkannya? Samar kau ingat, air mata ibumu luruh saat melihatmu meregang nyawa. Tangisnya menyayat ke seluruh penjuru dusun. Tetangga berdatangan. Sebagian besar karena tak tega mendengar isak ibumu yang mendadak sebatang kara. Tubuhmu disemayamkan berselimut jarik baru bermoti...
Literature, Kritik Sastra, Pendekatan Sastra, Sejarah Sastra, Aliran Sastra. Created by Riana Septiani. find me on rianaaseptiani@gmail.com and @septia_ri