Sejak tubuhnya mulai tumbuh, Kekayi sangat sadar akan kekuasaan yang dimilikinya. Kekayi, sangat mengagumi bentuk tubuhnya. Tubuh yang lebih indah daripada sebatang pohon, pohon yang tumbuh dekat jendela kamarnya. Pohon itu tingginya 20 meter. Daunnya halus dan rimbun. Tanaman ini memiliki bunga yang sangat indah. Maka banyak orang rebutan memberi nama: flamboyan, delonix regia, royal poinciana. Kekayi lebih suka memberinya nama pohon api. Pohon yang anggun dan seksi. Dan Kekayi merasa tubuhnya telah tumbuh menjadi sebatang pohon, pohon api. Pohon itulah temannya, ibunya, juga semangatnya. Tempat dia mengadu. Juga jika marah, pohon api itu membiarkan Kekayi menancapkan puluhan pisau runcing dan tajam di tubuhnya. Pohon api itu tetap diam, tidak merasa dilukai, justru menjatuhkan kelopak bunganya yang merah menyala. Kadang pohon api itu dipenuhi bunga, seolah pohon itu akan membakar langit. Pohon api itu akan memakan semua daun-daunnya, meninggalkan lidah api yang menyala. Kek...
Literature, Kritik Sastra, Pendekatan Sastra, Sejarah Sastra, Aliran Sastra. Created by Riana Septiani. find me on rianaaseptiani@gmail.com and @septia_ri