Langsung ke konten utama

Kritik Sastra Stukturalisme dalam Cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru karya Anggun Prameswari


Cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru karya Anggun Prameswari merupakan cerita pendek tentang seorang anak yang dianugerahi Linuwih atau kelebihan sejak dirinya mengalami kematian karena demam yang tak kunjung sembuh. Kelebihan itu berupa aroma lilin pada jarik baru yang semakin pekat jika tokoh utama semakin dekat pada seseorang yang akan menemui kematiannya. Semakin hari berlalu, tokoh utama mendapati aroma lilin jarik muncul ketika sosok ‘ibu’ lewat di depannya, sontak membuat tokoh utama tidak dapat menahan rasa takut kehilangan satu-satunya sosok yang dimiliki, namun nyatanya ide berbohong untuk membawa ‘ibu’ pergi dari rumah untuk membeli jarik baru membuat tokoh utama membawa ‘ibu’ menghampiri aroma jariknya masing-masing.
Tema yang diangkat dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru, karya Anggun Prameswari adalah kisah tentang kematian yang bisa datang kapan saja tanpa bisa dikendalikan. Hal ini tampak pada kutipan “Bukankah itu inti hidup? Perjalanan demi pencarian yang mengantar pada kepulangan sesungguhnya?” yang terdapat pada paragraf ke-6. Pada kutipan ini, pengarang menjelaskan tentang kematian sebagai inti dari kehidupan. Perjalanan hidup yang dilalui untuk mencari jati diri, pada akhirnya selalu bersandingan dengan kepulangan yang sesungguhnya.
Alur yang digunakan di dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru merupakan alur mundur. Pengarang menyajikan tahap pembentukan konflik sebagai tahap perkenalan di awal paragraf, lalu alur mundur satu minggu sebelum pembentukan konflik diceritakan secara luas. Hal ini tampak pada penggalan “kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kematian. Entah untung atau buntung, Tuhan mengembalikan ruhmu tak lama setelah mencabut paksa; seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa. Seminggu sebelum kejadian itu, kau tenah berladang di sawah ibumu yang cuma sepetak...” yang terdapat pada paragraf pertama dan paragraf kedua.
Pengarang melanjutkan pada tahap tengah atau tahap pertikaian yang menceritakan permunculan konflik ketika tokoh utama bangun dari kematiannya dan secara spontan menghirup pekatnya aroma jarik baru sebagai awal kedatangan linuwih pada diri tokoh utama. Hal ini terdapat pada penggalan paragraf ke-5 “Sejak itu kau memiliki linuwih. Kemampuan ‘lebih’ tiba-tiba dijatuhkan begitu saja dari langit. Kau bisa tahu siapa saja yang dijemput ajal. Pertanda itu mengahampirimu dalam bentuk aroma jarik baru, yang bau lilinnya masih pekat. Persis baru pertama yang kau cium setelah bangun dari matimu...” Lalu tahap konflik semakin meluas seperti saat tokoh utama mencium aroma jarik baru di pesta pernikahan tokoh bapak dengan istri mudanya. Aroma jarik baru itu terasa samar sebelum akhirnya tokoh utama menciumnya semakit pekat saat menghampiri kedua pengantin yang ternyata aroma itu membawa kematian pada tokoh bapak. Hal ini terdapat pada penggalan paragraf ke-19 “Dan di sanalah kau mencium aroma itu. Pekat lilin baru di lembar kain mori. Samar awalnya, kemudian menguat di tiap langkahmu mendekat ke pelaminan bapak. Kau tahu apa yang akan terjadi. Namun, kau memilih diam. Bahkan ketika lelaki itu harus tewas di atas pelaminan...” tahap konflik semakin menegang saat tokoh utama mendapati dirinya di pagi hari mencium aroma jarik baru yang tidak disangka-sangka berasal dari tokoh ibu saat melintas di depan tokoh utama. Rasa takut dan tak enak yang luar biasa membuat tokoh utama membawa ibu pergi keluar rumah yang dipikirnya akan menjauhi aroma jarik baru. Hal ini terdapat pada penggalan paragraf ke-23 yang berisi “Betapa rusuh benak dan isi dadmu; aroma jarik baru itu menguat saat ibu melintas di depanmu. Nyaris saja gelas di tanganmu meluncur jatuh, persis jantungmu yang mencelus.” Dan pada penggalan pragraf ke-24 yang berisi “Dalam kepalamu, segala bayang buruk berlesatan. Apa kau sanggup hidup membayangkan hidup tanpa ibu?” serta di perkuat dengan penggalan paragraf ke-26 yang berisi “mari ke kota, Bu. Membeli jarik baru.”.
Latar yang digunakan dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru ini ada beberapa yang pertama pengarang memperkenalkan jalan cerita berlatarkan sawah yang sedang turun hujan deras. Hal ini terdapat pada penggalan paragraf ke-2 yang berisi “kau tengah berladang di sawah ibumu yang cuma sepetak. Hujan deras membuatmu kuyup.” yang kedua, pengarang membawa jalan cerita yang berlatarkan rumah saat malam dan pagi hari yang tergambar pada penggalan paragraf ke-2 “tepat malam purnama, hari ketujuh demammu, tiba-tiba tanganmu mengulur keudara, seakan menahan sesuatu,” dan pada penggalan paragraf ke-22 “ketika pagi itu kau menghirup aroma yang sama, ada rasa tak enak yang luar biasa.” Selain berlatarkan rumah, pengarang juga membawa pembaca pada jalan cerita yang berlatarkan ruang pesta pernikahan tokoh bapak, seperti yang tergambar pada penggalan paragraf ke-15 “ibu pun melanjutkan mewiru jarik yang kau ketahui di kemudian hari, dikenakan ibu di pesta pernikahan bapakmu dengan istri mudanya”. Pada akhir cerita, pengarang memilih ujung jalan, toko, dan suasana di dalam angkutan umum untuk menjadi latar klimaks cerita seperti yang tergambar pada penggalan paragraf ke-28 "dari rumah kalian menyusuri setapak menuju Jalan Besar tak jauh dari sana ada perempatan dengan post menunggu mobil angkutan menuju kota." dan pada paragraf ke-30 "kalian hanya diam saja sampai angkutan berhenti di depan pasar di sebuah kios seorang emak tambun berwajah lembab keringat dan bertangan gemerincing gelang emas sepuhan menyambut kalian." paragraf ke-36  saat menunggu angkutan ke dusun di depanmu ada selembar daun tertiup angin." dan paragraf ke-38 "mobil itu melaju sesekali berguncang melintasi jalan bergelombang." ke-39 "langit pecah jadi hujan jalan basah semakin rawan saat mobil berbelok di tikungan tajam Kau hendak mengingatkan sopir untuk hati-hati.
Di dalam cerpen karya Anggun Prameswari yang berjudul Linuwih Aroma Jarik Baru terdapat dua tokoh yang menjadi tokoh utama sebagai ‘kau’ dan tokoh ‘ibu’ sebagai tokoh utama tambahan. Namun, selain itu ada beberapa tokoh lain seperti tokoh ‘bapak dan para tetangga. Adanya tokoh utama yang menggambarkan dirinya sebagai ‘kau’ dimaksudkan untuk membawa pembaca terhanyut dalam jalan cerita dan ikut merasakan suasana yang digambarkan pengarang.
Tokoh utama ‘kau’ digambarkan sebagai tokoh yang pemberani dalam mengambil risiko yang diberikan Tuhan kepada diri tokoh, hal ini tergambar saat tokoh ‘kau’ mengajak tokoh ‘ibu’ untuk menjauhi linuwih yang tercium dengan pengharapan agar tokoh ‘ibu’ tidak menemui kematiannya seperti penggalan paragraf ke-25 dan ke-26 “tak tahan lagi, kau terobos pintu bilik kamar ibu. Wanita itu menegakkan tubuh, menjauh dari tumpukkan jarik yang tengah dirapikan. ‘Mari ke kota, Bu. Membeli jarik baru’ begitu katamu tiba-tiba. ‘Ada sedikit uang. Aku ingin memberi ibu hadiah.’”
Tokoh ‘ibu’ menggambarkan sosok yang tegar dan gigih dalam menjalani kehidupan yang cukup berat. Tokoh ibu dibuat merasakan ikhlas menerima segala macam cobaan yang silih berganti datang seperti kehilangan anaknya yang tergambar pada penggalan paragraf ke-3 “sebagian besar karena tak tega mendengar isak ibumu yang mendadak sebatang kara.” Dan penggalan paragraf ke-29 “sepanjang perjalanan, ibu bercerita banyak, termasuk kau dulu nyaris tak berhasil dilahirkan.” dan “persis ketika kamu sempat mati. Ibu Ikhlas” yang juga terdapat dalam paragraf ke-29.
Tokoh-tokoh lain yang tergambarkan dalam cerita, tidak terlalu mengambil banyak peran, seperti tokoh para tetangga yang dalam penggalan paragraf ke-3 “tetangga berdatangan.” dan “doa para tamu dan tangis ibumu bersahut-sahutan; tak ada yang mau kalah.” Lain dengan tokoh Bapak yang cukup berperan dalam cerita sebagai peran antagonis yang membuat tokoh ‘ibu’ dan ‘kau’ merasa kesengsaraan dan kepasrahan seperti yang tergambar pada penggalan paragraf ke-15 “ibu pun melanjutkan mewiru jarik, yang kau ketahui di kemudian hari, dikenakan ibu di pesta pernikahan bapakmu dengan istri mudanya.”
Sudut pandang yang diambil oleh pengarang dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru yaitu sudut pandang persona kedua. Pengarang menggunakan kau sebagai variasi cara memandang tokoh aku. Penggunaan sudut pandang kau sebagai selingan dari gaya aku yang bertujuan untuk menokohkan pembaca sebagai dirinya atau pembaca sebagai tokoh utama yang sedang mengalami peristiwa dalam cerita yang diceritakan langsung oleh pengarang seperti yang tergambar pada paragraf pertama “kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kemarian. Entah untung atau buntung, Tuhan mengembalikan ruhmu tak lama setelah mencabut paksa; seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa.”  
Gaya bahasa yang digunakan pengarang dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru sangat beragam, seperti majas repetisi yang terdapat dalam penggalan paragraf pertama “kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kematian”, majas aliterasi yang juga terdapat di penggalan paragraf pertama“entah untung atau buntung”, majas klimaks yang terdapat pada penggalan paragraf ke-4 “pertama lirih, lama-lama melantang”, penggalan paragraf ke-19 “samar awalnya, kemudian menguat di tiap langkahmu mendekat kepelaminan bapak” dan penggalan paragraf ke-23 “ibu selalu tahu gundah apa di hatimu, binar riang di matamu, bahkan hela napasmu yang mendadak lain”, majas tautologi pada paragraf ke-9 “hening dan tenang”, majas retoris pada penggalan paragraf ke-18 “begitukah keinginan bapak terhadap jalan hidup kalian?” dan pada penggalan paragraf ke-20 “bukankah itu yang telah dia tanamkan dihatimu dan ibu?”, dan majas antiklimaks pada penggalan paragraf ke-28 “udara yang kau hirup tajam, mengiris hatimu lamat-lamat”. Keenam majas ini termasuk kedalam majas penegasan yang digunakan pengarang untuk mempertegas maksud dan makna yang tergambar dalam cerpen.
Selain majas penegasan, pengarang juga menggunakan majas perbandingan yang meliputi majas alegori pada penggalan paragraf pertama “seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa” dan para penggalan paragraf ke-21 “termasuk menghayati tangis ibu; berkelindan dengan ruap aroma jarik baru yang perlahan memudar”, majas hiperbola pada penggalan paragraf ke-3 “tangisnya menyayat ke seluruh penjuru dusun” dan pada penggalan paragraf ke-8 “kain batik selalu membungkus tubuh mungilnya yang mirip ranting; berkali-kali meliuk ditiup angin, tapi tak kunjung patah” majas simile pada penggalan paragraf ke-4 “mulut-mulut menganga, persis ikan-ikan yang menggelepar”, penggalan paragraf ke-5 “awalnya samar serupa liukkan tangan penari yang menuntunmu ke atas panggung” dan pada penggalan paragraf ke23 “nyaris saja gelas di tangan meluncur jatuh, persis jantungmu yang mencelus”, dan majas personifikasi pada penggalan paragraf ke-12 “jangan sampai keliru, apalagi merusak keseimbangan. Hidup tidak akan harmonis dan bahagia”.
Melalui cerpen bejudul Linuwih Aroma Jarik Baru, pengarang ingin menyampaikan amanat kepada pembaca berupa nilai kehidupan yang berharga untuk tetap dijalani sekeras apapun masalahnya. Pencarian jati diri dan beban kehidupan yang didapat akan disamakan dengan keikhlasan pada kepulangan yang sesungguhnya seperti yang ada pada paragraf ke-6 “maka selelah atau sesibuk apapun, bila aroma jarik baru mendatangimu, kau akan mencari sumbernya dan mengunjunginya untuk tanda penghormatan. Bukankah itu inti hidup? Perjalanan demi pencarian yang mengantar pada kepulangan sesungguhnya” dan pengarang juga ingin menyampaikan makna jarik yang berkali-kali menjadi kata utama pada cerpen bahwa dalam menjalani kehidupan ini, seseorang tidak boleh iri pada apa yang dimiliki orang lain. Karena segala yang dimiliki sudah diatur oleh takdir seperti yang terdapat pada penggalan paragraf ke-16 “jarik artinya ‘aja gampang serik’. Mengingatkan ibu tidak boleh iri pada apa-apa yang bukan milik”.
Dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru karya Anggun Prameswari, pembaca diajak menyelami cerita rekaan pengarang dengan menggunakan sudut pandang persona kedua dan pada pada paragraf terakhir, pengarang mengubah sudut pandang keakuan yang mempertegas akhir cerita bahwa kisah tentang diri pembaca sudah sampai pada akhir. Tokoh ‘ibu’ yang berperan sebagai tokoh yang tegar membuat pembaca seolah mendapatkan cerminan diri untuk menyikapi perjalanan hidup. Beragam gaya bahasa yang terdapat pada cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru ini semakin memperkuat penggambaran jalan cerita melalui diksi dan kalimat yang indah sejalan dengan latar belakang cerita yang ringan dan ramah terhadap lingungan sekitar sehingga mudah diterima oleh pembaca.
Terdapat beberapa kelebihan dalam cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru karya Anggun Prameswari yang mebuat karya tersebut mendapat nilai layak tebit di media cetak bahkan dibukukan karena memiliki bahasa dan alur yang mudah dimengerti oleh pembaca. Pengarang juga sangat lihai membuat pembaca seolah benar-benar merasakan emosi cerita yang digambarkan di dalam cerpen melalui penokohan yang dititikberatkan pada pembaca. Melalui cerita yang digambarkan, pengarang menyisipkan pesan-pesan moral yang sangat mendalam dam mudah ditangkap oleh pembaca saat membaca cerita maupun setelah membaca cerita. Namun, ada beberapa kekurangan yang juga terdapat saat pembaca membaca cerpen Linuwih Aroma Jarik Baru ini. Kadang kala, pembaca dibuat bingung dengan perpindahan alur dan latar belakang cerita yang menjadi satu paragraf. Pembaca juga dibuat bingung oleh bahasa-bahasa daerah yang tidak dijelaskan apa maksud dan arti dari bahasa daerah tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Linuwih Aroma Jarik Baru karya Anggun Prameswari (2015)

Kaulah perempuan itu; perempuan yang bangun dari kematian. Entah untung atau buntung, Tuhan mengembalikan ruhmu tak lama setelah mencabutnya paksa; seperti menyentak gulma dari tanah, lalu menjejalkannya kembali sedemikian rupa. Seminggu sebelum kejadian itu, kau tengah berladang di sawah ibumu yang cuma sepetak. Hujan deras membuatmu kuyup. Karena awalnya memang kau tak sehat betul, hawa dingin dengan cepat membuat badanmu membara setiba di rumah. Bergelung jarik, kau mengigau tak keruan. Segala obat kau telan, tetap sia-sia. Tepat di malam purnama, hari ketujuh demammu, tiba-tiba tanganmu terulur ke udara, seakan menahan sesuatu. Apakah malaikat datang merenggut paksa jiwamu, tapi kau teguh memperjuangkannya? Samar kau ingat, air mata ibumu luruh saat melihatmu meregang nyawa. Tangisnya menyayat ke seluruh penjuru dusun. Tetangga berdatangan. Sebagian besar karena tak tega mendengar isak ibumu yang mendadak sebatang kara. Tubuhmu disemayamkan berselimut jarik baru bermoti...

Aliran-Aliran Sastra

Definisi sastra memiliki banyak macam makna mulai dari sastra sebagai seni sampai dengan ungkapan rasa. Sejatinya, sastra adalah bagaimana penulis dan pembaca membawa makna tersebut menjadi kekuatan rasa bermediakan bahasa yang dapat diungkapkan melalui banyak cara. Definisi bercabang inilah yang menjadi akar pengelompokkan beberapa aliran dalam sastra. Aliran sastra merupakan cara menggambarkan prinsip dan pandangan suatu karya sastra berikut dengan penulisnya. Aliran sastra dapat menggambarkan pandangan hidup yang dianut oleh sastrawan tersebut. Berikut aliran sastra menurut Aoh K. Hadimadja dalam buku Aliran-Aliran Klasik, Romantik, dan Realisme dalam Kesusastraan (1972). • Aliran Klasik ditujukan pada karya-karya sastra yang bersifat kuno dan memiliki pedoman yang sangat tinggi. • Aliran Romantik ditujukan pada seorang sastrawan yang menggunakan perasaan mereka yang disampaikan secara tersirat dengan menggunakan gaya diksi dibuat secara indah dan dramatik. • Aliran Realisme dit...